KERJA SAMA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING, PRAKTISI PSIKOLOGI DAN ORANG TUA WALI PESERTA DIDIK DALAM PEMBINAAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SMP MUHAMMADIYAH AHMAD DAHLAN METRO TAHUN PELAJARAN 2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada konseli yang berhubungan dengan kepribadiannya dan prosesnya dilakukan oleh orang dewasa. Proses adalah perubahan atau serangkaian tindakan atau peristiwa selama beberapa waktu menuju hasil tertentu. Dikatakan sebagai suatu proses sosial dalam bimbingan dan konseling karena didalam proses pemberian bantuan kepada konseli terdapat hubungan antara individu yang saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, semua yang terlibat dalam proses bimbingan dan konseling besar kemungkinan mengalami perubahan, karena proses bimbingan dan konseling merupakan suatu sarana atau media yang tidak mungkin dielakkan lagi.
Salah satu tugas seorang guru BK atau konselor dalam dunia pendidikan adalah membantu perubahan tingkah laku konseli atau peserta didik dalam menanggulangi sikap yang menyeleweng atau kenakalan menuju kondisi yang adequate. Sehingga guru bimbingan dan konseling atau konselor dibutuhkan dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan formal, terutama dalam membimbing peserta didik pada tingkat SMP Dimana pada tahap pendidikan SMP anak berada pada tahap perkembangan remaja.
Masa remaja merupakan suatu masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai. Masa remaja juga dikenal dengan masa peralihan dari masa sekolah menuju masa pubertas, dimana seorang anak yang telah besar sudah ingin berlaku seperti orang dewasa tetapi dirinya belum siap termasuk kelompok orang dewasa. Pada masa ini seorang anak mulai aktif mencapai kegiatan dalam rangka menemukan dirinya (akunya), serta mencari pedoman hidup, untuk bekal kehidupan mendatang. Kegiatan tersebut dilakukannya penuh semangat menyala-menyala tetapi ia sendiri belum memahami akan hakikat dari sesuatu yang dicarinya itu. Oleh karena itu dalam proses pembentukan konsep hidup dan pencarian indetitas membutuhkan bimbingan, pengarahan dan pengawasan yang ekstra baik dari lingkungan keluarga, lembaga pendidikan dan lingkungan hidup remaja. Untuk mendapatkan output yang baik perlunya pembentukan suatu lingkungan yang dapat merangsang potensi anak agar lebih maksimal, seperti dalam Sunarto dan Hartono (2013:3) menjelaskan bahwa :
Dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak agar dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya.
Hal tersebut menjelaskan anak dapat dibantu guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan
Kebutuhan bimbingan, pengarahan dan pengawasan yang dilakukan secara ekstra pada fase remaja, dikarenakan fenomena perkembangan teknologi sekarang. Kemajuan masyarakat modern yang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi, namun tidak mampu menumbuhkan moralitas (akhlak mulia) umat Islam. Hal itu secara spesifik terbukti di negara kita indonesia. Kebohongan, korupsi, tawuran terjadi dimana-mana dan kenakalan-kenakalan lainnya yang sering dilakukan oleh para muda mudi. Gejala kemorosotan moral itu tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Namun pada tunas-tunas muda atau remaja islam gejala itu sudah terlihat jelas. Gaya kebarat-baratan menjadi kiblat dalam bertindak seperti pergaulan, pakaian dan lain-lain. Oleh karena itu, untuk menjaga generasi muda kedepan dibutuhkan suatu kerjasama antara lembaga pendidikan tempat anak mendapatkan berbagai variasi ilmu yang disajikan atau disampaikan secara sistematis dengan pihak orang tua dan juga penting berkerja sama dengan para ahli seperti psikolog guna dapat mendeteksi atau menganilis kepribadian dan masalah yang terjadi pada seorang remaja sekaligus pusat konsultasi bagi orang tua bagaimana pola pengasuhan anak yang baik. Adapun salah satu tugas orang tua sebagai pendidik di rumah adalah menanamkan aqidah islamiyah yang kuat, untuk membentengi perubahan tingkah laku anak terutama di zaman yang serba teknologi. Dalam perihal kerjasama antara pihak sekolah khusunya guru BK dengan orang tua dan praktisi psikologi dilakukan supaya kenakalan yang marak terjadi pada remaja dapat di minimalisirkan.
Dari fenomena diatas penulis tertarik untuk mendeskripsikan dalam bentuk laporan Best Practice bagaimana kerjasama guru bimbingan dan konseling, praktisi psikologi dan orang tua wali peserta didik dalam pembinaan karakter peserta didik di SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro Tahun Pelajaran 2019/2021.
B. Tujuan Kegiatan
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penelitian difokuskan pada ”kerjasama Guru Bimbingan dan Konseling, praktisi psikologi dan orang tua wali peserta didik dalam pembinaan karakter peserta didik di SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro tahun pelajaran 2019/2020”. Setelah fokus penelitian ditetapkan, maka rumusannya masalah sebagai berikut: Bagaimanakah kerjasama guru bimbingan dan konseling, praktisi psikologi dan orang tua wali peserta didik dalam pembinaan karakter peserta didik di SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan tahun pelajaran 2019/2020?
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan kerjasama guru bimbingan dan konseling, praktisi psikologi dan orang tua wali peserta didik dalam pembinaan karakter peserta didik di SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro Tahun Pelajaran 2019/2020.
C. Manfaat Kegiatan
Diharapkan dapat memberikan gambaran tentang kerjasama guru bimbingan dan konseling, praktisi psikologi dan orang tua wali peserta didik dalam pembinaan karakter peserta didik yang pada akhirnya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan guna memenuhi harapan masyarakat sekarang dan masa mendatang.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Peran Guru Bimbingan dan Konseling
Peran dari seorang guru Bimbingan dan Konseling sangatlah penting dalam membantu kinerja sekolah. Maka dari itu berbagai tugas, pokok dan fungsi dari seorang guru Bimbingan dan Konseling sangat diperlukan dalam ruang lingkup sekolah.
1. Pengertian Peran Guru Bimbingan dan Konseling
Proses pengentasan masalah peserta didik di sekolah perlu adanya peranan dari seorang guru baik dari masalah akademik maupun non akademik. Menurut Nurihsan (2005:47) peran seorang guru Bimbingan dan Konseling yang diharapkan yaitu:
a. Memasyarakatkan bimbingan.
b. Merencanakan program bimbingan.
c. Melaksanakan persiapan kegiatan bimbingan.
d. Melaksanakan layanan bimbingan terhadap sejumlah peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya minimal sebanyak 150 peserta didik. Apabila diperlukan, karena jumlah guru pembimbing kurang mencukupi dibanding dengan jumlah peserta didik yang ada, seorang guru pembimbing dapat menangani lebih dari 150 orang peserta didik. Dengan 150 orang peserta didik secara intensif dan menyeluruh, berarti guru pembimbing telah menjalankan tugas wajib seorang guru, yaitu setara dengan 18 jam pelajaran seminggu.
e. Melaksanakan kegiatan penunjang bimbingan.
f. Menilai proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan.
g. Menganalisis hasil penilaian.
h. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis penilaian.
i. Mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling dan
j. Mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatan kordinator guru pembimbing.
Sehubungan penjelasan tersebut mengenai peran guru Bimbingan dan Konseling Dimana guru Bimbingan dan Konseling berperan dalam memasyarakatkan bimbingan, merencanakan program, melaksanakan persiapan, melaksanakan tanggung jawab berdasarkan banyaknya jumlah peserta didik yang diampu, melaksanakan kegiatan penunjang bimbingan, menilai proses dan hasil, menganalisis, melaksanakan tindak lanjut, mengadministrasikan, dan bertanggung jawab terhadap tugas.
Demikian menurut Sukardi (2008:92) peran guru Bimbingan dan Konseling dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling yaitu:
1) Melaksanakan layanan Bimbingan dan Konseling.
2) Memasyarakatkan layanan bimbingan dan konseling.
3) Merencanakan program Bimbingan dan Konseling.
4) Melaksanakan segenap program layanan Bimbingan dan Konseling.
5) Mengevaluasi proses dan hasil pelaksanaan program layanan Bimbingan dan Konseling.
6) Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi program pelayan Bimbingan dan Konseling.
7) Mengadministrasikan kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling.
8) Mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling kepada kordinator Bimbingan dan Konseling.
Menurut pendapat Sukardi tersebut bahwa peran guru Bimbingan dan Konseling mencakup: melaksanakan layanan Bimbingan dan Konseling, memasyarakatkan layanan Bimbingan dan Konseling, merencanakan program Bimbingan dan Konseling, melaksanakan segenap program, mengevaluasi proses dan hasil, melaksanakan tindak lanjut, mengadministrasikan kegiatan layanan, mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatan.
Jadi kesimpulan peran guru Bimbingan dan Konseling adalah:
a) Memasyarakatkan Bimbingan dan Konseling.
b) Melaksanakan layanan Bimbingan dan Konseling.
c) perencanaan program Bimbingan dan Konseling.
d) melaksanakan segenap program bimbingan dan konseling.
e) mengevaluasi proses dan hasil pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling.
f) Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi program pelayanan Bimbingan dan Konseling.
g) Mengadministrasikan kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling.
h) Mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling kepada kordinator Bimbingan dan Konseling.
2. Tugas guru Bimbingan dan Konseling
Untuk menjalankan perannya seorang guru harus saling berkordinasi dan menjalankan tugas pokok dan fungsinya masing-masing agar tujuan dari proses pendidikan tercapai. Menurut Wardati (2011:28) mengenai tugas guru Bimbingan dan Konseling yaitu bertujuan membantu individu dalam mencapai:
a. Kebahagiaan pribadi sebagai makhluk tuhan.
b. Kehidupan yang produktif dan efektif dalam masyarakat
c. Hidup bersama dengan individu-individu lain
d. Harmoni antara cita-cita mereka dengan kemampuan yang dimilikinya.
Berdasarkan pendapat Wardati, tugas seorang guru Bimbingan dan Konseling haruslah membantu individu mencapai kebahagiaanya dalam artian seorang individu harus berusaha mencapai maksud dan tujuannya, kemudian individu dapat hidup produktif yang bermanfaat bagi lingkungannya, seorang individu pun mampu untuk bersama dengan individu-individu lain dan yang terakhir menyesuaikan antara cita-cita dan kemampuan individu yang dimiliki.
Menurut Tohirin (2014:34) mengenai tugas guru Bimbingan dan Konseling yang berkaitan tentang konseli adalah agar konseli dapat:
pertama, memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya. Kedua, mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya ke arah tingkat perkembangan yang optimal. Ketiga, mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya. Keempat, objektif tentang dirinya. Kelima, dapat menyesuaikan diri secara lebih efektif baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkungannya. Keenam, mencapai tarak aktualisasi diri sesuai dengan potensi yang dimiliknya. Ketujuh, terhindar dari gejala-gejala kecemasan dan perilaku salah suai.
Hal tersebut menjelaskan bahwa tugas seorang guru Bimbingan dan Konseling yang berkaitan dengan konseli yaitu agar individu memiliki pemahaman yang baik tentang dirinya, individu dapat menyesuaikan dirinya, mampu memecahkan masalah yang dialami, objektif tentang dirinya dalam artian agar individu memahami kelebihan dan kekurangan dirinya, individu mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan, individu dapat mengaktualisasi segala potensi yang dimilikinya dan individu mampu mencegah kecemasan dan perilaku yang dapat merugikan dirinya.
Berdasarkan kedua pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan mengenai tugas guru Bimbingan dan Konseling adalah membantu individu agar mencapai perkembangannya yang optimal serta mampu mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik.
B. Praktisi Psikologi
Psikolog adalah seorang ahli dalam ilmu psikologi yang berfokus pada pikiran dan perilaku seseorang. Psikolog umumnya menggunakan psikoterapi untuk membantu klien atau pasien untuk mengatasi masalah yang memengaruhi kondisi mental dan kesehatannya.
Dalam menyelesaikan masalah psikologis ataupun memperbaiki perilaku pasien, psikolog dapat bekerjasama dengan psikiater dan dokter yang menangani pasien. Kerjasama dilakukan apabila pasien membutuhkan pengobatan sekaligus psikoterapi dan konseling dari psikolog.
1. Jenis-Jenis Psikolog
Psikolog umum dapat mendalami bidang psikologi yang berbeda-beda setelah lulus program pendidikan sarjana psikologi (S1 atau S.Psi). Bidang psikologi yang dapat dipelajari lebih dalam ada banyak, termasuk psikologi industri dan organisasi, psikologi klinis anak dan dewasa, serta psikologi pendidikan. Setelah menyelesaikan pendidikan lebih lanjut tersebut, psikolog akan memiliki gelar Magister Psikologi (M.Psi).
Berikut ini adalah jenis-jenis psikolog:
a. Psikolog industri dan organisasi
Psikolog industri dan organisasi (PIO) mempelajari perilaku di tempat kerja serta membantu menyaring karyawan terbaik untuk posisi tertentu, dan meningkatkan produktivitas karyawan di suatu perusahaan atau organisasi. Selain itu, PIO juga mempunyai tugas untuk membuat program pelatihan bagi karyawan perusahaan untuk meningkatkan pengetahuan dan skill, memaksimalkan efisiensi, dan mengurangi kerugian perusahaan.
b. Psikolog pendidikan
Psikolog pendidikan mempelajari bagaimana seseorang belajar. Psikolog pendidikan dapat ikut serta dalam membuat instruksi dan strategi untuk mengajar. Sebagian besar psikolog pendidikan juga mempelajari mengenai bakat dan masalah kemampuan belajar seseorang, serta bagaimana faktor sosial, kognitif, dan emosional berpengaruh pada kemampuan belajar seseorang.
c. Psikolog klinis
Psikolog klinis memeriksa, mendiagnosis, serta merawat pasien yang menderita masalah kesehatan mental dan tekanan psikologis, menggunakan psikoterapi dan konseling. Biasanya, psikolog klinis bekerja di rumah sakit, klinik kesehatan mental, atau praktik sendiri. Psikolog klinis dapat memiliki keahlian spesifik di bidang kesehatan mental dewasa atau anak, ataupun memiliki spesialisasi dalam bidang pengobatan terhadap penyalahgunaan obat-obatan.
d. Psikolog sosial
Psikolog sosial mempelajari dan menelaah perilaku dan pola pikir suatu kelompok di masyarakat. Ahli psikologi sosial juga dapat meneliti bagaimana sikap, penilaian, cara komunikasi, hubungan interpersonal, dan perilaku agresif dapat muncul di suatu kelompok masyarakat.
2. Kondisi ataupun Masalah yang Ditangani Psikolog
Psikolog memiliki pengetahuan mendalam tentang pencegahan, diagnosis, dan penanganan terkait masalah kesehatan mental. Selain itu, psikolog juga dapat mencari tahu, menganalisis penyebab, dan memberikan solusi terhadap permasalahan psikologis yang dialami seseorang melalui perubahan sikap ataupun gaya hidupnya. Beberapa macam pelayanan dan gangguan psikologis yang dapat ditangani oleh psikolog meliputi:
a. Gangguan kecemasan, seperti gangguan obsesif kompulsif atau OCD, fobia, serangan panik, atau post traumatic stress disorder (PTSD).
b. Gangguan mood atau suasana hati, seperti depresi atau gangguan bipolar.
c. Kecanduan atau adiksi, misalnya obat-obatan, alkohol, ataupun judi.
d. Gangguan makan, seperti anoreksia atau bulimia.
e. Gangguan kepribadian, seperti gangguan kepribadian ambang.
f. Skizofrenia atau gangguan kejiwaan lain yang menunjukkan gangguan halusinasi atau psikosis pada penderitanya.
g. Fobia atau rasa takut berlebih terhadap benda atau situasi tertentu.
h. Konflik pasien baik dengan pasangan, keluarga, teman, ataupun orang lain.
i. Gangguan psikologis terkait kejadian traumatis, seperti menjadi korban kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual, atau bencana alam.
3. Tindakan yang Dilakukan Psikolog
Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan oleh psikolog:
a. Melakukan wawancara psikologis dan psikotes
Psikolog akan memeriksa dan menilai kemampuan intelektual dan kesehatan mental seseorang melalui wawancara psikologis dan psikotes. Dari pemeriksaan tersebut, psikolog dapat mengevaluasi tingkat intelektual, kelebihan dan kekurangan kognitif, bakat dan preferensi kerja, karakter, kepribadian, dan fungsi psikologis dari pasien.
b. Psikoterapi atau konseling
Umumnya, setelah membuat diagnosis, psikolog akan menangani seseorang yang mengalami gangguan mental, trauma, atau fobia, dengan menggunakan terapi bicara atau psikoterapi. Jenis-jenis psikoterapi adalah terapi kognitif, perilaku, kognitif-perilaku, interpersonal, humanistik, dan psikodinamika (kombinasi beberapa jenis terapi). Psikoterapi bisa dilakukan secara individual, bersama keluarga, pasangan, atau berkelompok.
c. Membuat program terapi atau pelatihan
Psikolog juga dapat membuat program terapi atau pelatihan yang dilakukan pasien atau klien di rumah, kantor, sekolah, ataupun tempat lain. Program terapi atau pelatihan tersebut perlu dilakukan oleh pasien untuk membantu mengontrol, memperbaiki masalah, ataupun meningkatkan performa.
d. Terapi hipnotis
Terapi hipnotis atau hipnoterapi merupakan salah satu tindakan yang dapat dilakukan psikolog yang sudah mengambil pelatihan tambahan di bidang hipnos Psikolog dapat melakukan hipnosis untuk membantu pasien mengontrol masalah kecemasan, fobia, kecanduan atau adikisi, dan masalah suasana hati atau mood.
Terkadang, ada pasien yang membutuhkan psikoterapi sekaligus pengobatan untuk menyembuhkan kondisinya. Pada kondisi ini, psikolog dapat bekerjasama dengan dokter yang menangani pasien, seperti dokter anak, ataupun psikiater untuk memberikan perawatan terbaik sesuai dengan kondisi pasien.
C. Kerjasama Guru Bimbingan Konseling dengan Orang Tua
Kerjasama merupakan suatu interaksi sosial, dalam istilah administrasi kerjasama diartikan suatu usaha untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian kerja, bukan pengkotakan kerja, akan tetapi sebagai suatu satu kesatuan yang semuanya terarah pada satu tujuan. Menurut Abdulsyini kerjasama adalah suatu bentuk proses sosial, dimana didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama saling bantu membantu dan saling memahami aktivitas masing-masing. Oleh karena itu kerjasama selalu berhubungan dengan pembagian tugas, dimana setiap orang mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab masing-masing untuk mencapai tujuan besama. Begitu juga adanya kerjasama antara instansi sekolah dengan orang tua. Profesi guru bimbingan konseling atau disebut juga Konselor di sekolah
memiliki peranan untuk mendorong perkembangan individu, memecahkan dan mendorong tercapainya kesejahteraan individu secara fisik, psikologis, intelektual, emosional, ataupun spiritual. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa guru bimbingan konseling dapat diartikan pekerjaan layanan kemanusian yang telah mendapatkan beberapa pelatihan formal atau berlatar belakang pendidikan serta satuan ilmu mengenai bimbingan konseling secara sitematis.
Orang tua adalah model yang kebiasaan dan sikapnya berpengaruh penting bagi nilai dan tindakan anak. Oleh karena itu para konselor di lingkup sekolah dapat menawarkan kerjasama dengan orang tua dalam pengasuhan yang dapat membantu orang tua. Pentingnya orang tua sebagai pengaruh utama dalam pembentukan dan perkembangan anak menuntut konselor bekerjasama dengan orang tua berbasis mutualis pembelajaran dan perencanaan langkah pencegahan terbaik demi keuntungan anak. Pendidikan akan berlangsung dengan baik bilamana ada hubungan baik pula antara sekolah dengan keluarga salah satunya adalah hubungan kerjasama antara guru bimbingan konseling atau konselor denga orang tua. Pendidikan di keluarga haruslah searah dengan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu sekolah pada waktu-waktu tertentu mengadakan pertemuan dengan para orang tua murid. Pertemuan-pertemuan itu sebaiknya diisi dengan berbagai diskusi yang pada dasarnya bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada orang tua murid demi kebaikan anak-anaknya dan perkembangan semua aspek pada diri anak. Adapun bentuk bentuk kerjasama yang dapat dilakukan oleh guru bimbingan konseling dan orang tua
adalah sebagai berikut:
1. Bentuk Usaha Formal
Usaha formal adalah usaha yang diselenggarakan dengan sengaja,
terencana dan sistematika. Dalam usaha formal ini guru bimbingan
konseling dan orang tua menjalankan tugasnya masing yang dapat
menunjang tercapainya tujuan bersama yaitu mengoptimalkan
perkembangan anak baik secara fisik dan psikisnya.
2. Bentuk Usaha Informal
Bentuk usaha informal adalah usaha yang diselenggarakan dengan sengaja namun tidak terencana dan tidak sistematis, namun usaha informal dilakukan untuk menunjang tercapainya usaha formal.
D. Hakikat Pembinaan Karakter
1. Pembinaan
Pembinaan merupakan terjemahan dari kata traning yang berarti latihan, pendidikan, pembinaan. Pembinaan menekankan pada pengembangan sikap, kemampuan, dan kecakapan. Unsur dari pembinaan adalah mendapatkan sikap (attitude), dan kecakapan (skill)(Mangunhardjana, 1986:11).Pembinaan adalah suatu proses belajar dengan melepaskan hal-hal yang yang sudah dimiliki dengan tujuan membantu orang yang menjalaninya, untuk membentuk dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan baru untuk mencapai tujuan hidup dan bekerja yang sedang dijalani dengan efektif (Mangunhardjana, 1986: 11) .Pembinaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti: (1). proses, pembuatan, cara membina, (2). pembaharuan dan penyempurnaan, (3). usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik (Depdiknas, 2002: 152). Pembinaaan merupakan model upaya untuk memberikan didikan dan bimbingan pada anak didik untuk dapat lebih meningkatkan unsur-unsur kebaikan dalam dirinya baik aspek rohani/jasmani yang telah ada padanya untuk lebih dikembangkan menuju tujuan yang baik. Pembinaan dapat dilakukan oleh dan dimanapun berada. Pembinaan tidak hanya dilakukan dalam keluarga dan disekolah saja, tetapi diluar keduanya juga dapat dilakukan suatu pembinaan.Menurut Mangunhardjana (1986: 17), untuk melakukan pembinaan ada beberapa pendekatan yang harus diperhatikan oleh seorang pembina yaitu :
a. Pendekatan informatif (informative approach), yaitu cara menjalankan program dengan menyampaikan informasi kepada peserta didik. Dimana dalam pendekatan ini peserta didik dianggap belum tahu dan tidak punya pengalaman.
b. Pendekatan partisipatif (partisipative approach), pada pendekatan ini peserta didik sebagai sumber utama, pengalaman dan pengetahuan dari peserta didik dimanfaatkan, sehingga lebih kesituasi belajar bersama.
c. Pendekatan eksperiensial (experienciel approach), dalam pendekatan ini menempatkan bahwa peserta didik langsung terlibat didalam pembinaan. Pembinaan ini disebut sebagai belajar yang sejati, karena pengalaman pribadi dan langsung terlibat dalam situasi tersebut.
2. Karakter.
a. Pengertian Karakter
Kata karakter berasal dari kata Yunani, charassein yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola. Sedangkan dalam istilah bahasa Arab karakter ini mirip dengan akhlak, yang berarti tabiat atau kebiasaan melakukan hal yang baik. Menurut Al-ghazali akhlak adalah tingkah laku seseorang yang berasal dari hati yang baik (Megawangi, 2004: 25). Mempunyai akhlak mulia adalah tidak secara otomatis dimilki oleh setiap manusia begitu ia dilahirkan, tetapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan. Rutland mengemukakan karakter berasal dari akar kata Latin yang berarti “dipahat”. Sebuah kehidupan, seperti sebuah blok granit yang dengan hati-hati dipahat ataupun dipukul secara sembarangan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah mahakarya atau puing-puing yang rusak. Karakter gabungan dari kebajikan dan nilai-nilai yang dipahat di dalam batu hidup tersebut, akan menyatakan nilai yang sebenarnya (Hidayatullah, 2010: 12). Karakter adalah sebuah pola, baik itu pikiran, sikap, maupun tindakan, yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan (Munir, 2010: 3). Hermawan Kertajaya mengemukakan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu. Ciri khas ini pun yang diingat oleh orang lain tentang orang tersebut, dan menentukan suka atau tidak sukanya mereka terhadap sang individu. Karakter memungkinkan individu untuk mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan, karena karakter memberikan konsistensi, integritas, dan energi. Orang yang memiliki karakter yang kuat, akan memiliki momentum untuk mencapai tujuan.
Sedangkan mereka yang karakternya mudah goyah, akan lebih lambat untuk bergerak dan tidak bisa menarik orang lain untuk bekerja sama dengannya (Hidayatullah, 2010: 13). Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang, yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain (Puskur, 2010: 3). Menurut Wibowo (2010: 2) Karakter adalah nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti: perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran. Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang dibuat. Menurut Prayitno (2010: 38) Karakter adalah sifat pribadi yang relatif stabil pada diri individu yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi. Relatif stabil yaitu suatu kondisi yang apabila telah terbentuk sulit untuk diubah. Landasan yaitu kekuatan yang pengaruhnya sangat besar/dominan dan menyeluruh terhadap hal-hal yang terkait langsung dengan kekuatan dimaksud.
Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan pennggerak, serta yang membedakan dengan individu lain.Pendidikan Karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada
internalisasi, dan pengalaman nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarat.
BAB III
STRATEGI PEMECAHAN MASALAH
A. Strategi Pemecahan Masalah
Dalam melakukan pembinaan karakter peserta didik guru BK bekerja sama dengan praktisi psikologi dan orang tua wali peserta didik untuk membantu dalam proses pembinaan. Hal itu diperlukan karena praktisi psikologi mampu menganalisis kepribadian peserta didik sehingga dapat menjadi acuan dalam menentukan langkah-langkah dalam proses pembinaan dan orang tua wali membantu dalam membina ketika diluar sekolah dan kembali menghidupkan bahwa pendidikan yang utama adalah keluarga
B. Tahapan Operasional Pelaksanaan
1. Tujuan
Tujuan penulisan praktik ini adalah untuk mendeskripsikan hasil praktik penulis dalam menerapkan kerja sama Guru bimbingan dan konseling, praktisi psikologi dan orang tua wali peserta didik di SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro tahun pelajaran 2019/2020.
2. Bahan/Materi Kegiatan
a. Konseling individu
b. Tes psikologi
c. Diskusi Parenting dengan orang tua wali peserta didik
d. Konsultasi parenting oleh psikolog
3. Teknik yang digunakan
kegiatan menggunakan teknik atau cara yang digunakan dalam BK yaitu konseling individu serta metode diskusi dengan orang tua wali yang dipimpin oleh praktisi psikologi.
4. Pelaksanaan Kegiatan
a. Cara Melaksanakan Kegiatan
Membuat RPL konseling individu untuk peserta didik yang memerlukan pembinaan, menyelenggarakan diskusi parenting dengan wali peserta didik dan menyediakan konsultasi psikologi yang berkaitan tentang parenting.
b. Waktu dan Tempat Kegiatan
1). Waktu
Contoh pelaksaanan proses konseling, diskusi parenting dan konsultasi parenting dalam pembinaan anak adalah
a) tanggal 8 Oktober 2019 dan 15 Oktober 2019 inisial nama Z.
b) Diskusi parenting 6 November 2019.
c) Konsultasi parenting 20 November 2019.
c. Tempat kegiatan
1). Tempat Kegiatan
a). Konseling dan konsultasi di Ruang BK
b). Diskusi parenting di masjid smp Muh Ahmad Dahlan
d. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dalam setiap tahapan konseling individu dan konsultasi parenting dengan orang tua apabila tidak ada perubahan pemanggilan konseling dan konsultasi parenting dilakukan lagi secara berkala
e. Hasil Kegiatan
Hasil kegiatan yang diperoleh yaitu sebagai contoh inisial dengan nama Z Adanya perubahan mulai mengikuti kegiatan pembelajaran disekolah dengan baik, dan mengikuti kegiatan eksternal sekolah dengan baik, sehinggan dengan inisial nama Z mampu produktif dan terhindar dari kenakalan remaja.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan Hasil Uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Kerja sama antara guru BK dan psikolog efektif dalam pembinaan karakter peserta didik dengan langkah menganalisis permasalahan remaja sebelum guru BK melakukan mentoring pembinaan kepada peserta didik, selain itu juga efektif sebagai sumber rujukan dalam konsultasi parenting orang tua wali peserta didik.
2. Kerja sama dengan wali peserta didik efektif dalam pengawasan pembinaan karakter perilaku peserta didik diluar sekolah, sehingga perilaku peserta didik dapat terpantau oleh guru BK melalui orang tua wali peserta didik.
3. Adanya perubahan pada perilaku perilaku peserta didik seperti yang dijelaskan pada hasil kegiatan diatas.
B. Rekomendasi
Pada Hasil kegiatan yang telah dilakukan maka rekomendasi oleh penulis adalah:
1. Guru BK melakukan pengawasan secara berkala setelah kegiatan dilakukan apakah peserta didik mengelami perubahan atau tidak
2. Guru BK menjalin hubungan yang baik dengan orang tua wali peserta didik agar pelayanan konseling dan pembinaan karakter peserta didik dapat berjalan dengan baik dan maksimal
DAFTAR PUSTAKA
Hidayatullah, Furqon. 2010. Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.
Mangunhardjana, A. 1986. Pembinaan, Arti dan Metodenya. Yogyakarta: Kanisius.
Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta: BPMGAS.
Nurihsan, Achmad Juntika. 2005. Strategi Layanan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT Refika Aditama.
Puskur Balitbang Kemdiknas. 2010. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta.
Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Sunaro dan Hartono, Agung. 2013. Perkembangan PESERTA DIDIK. Jakarta: Rineka Cipta
Tohirin. 2014. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Rajawali Pers.
Wardati. 2011. Implementasi Bimbingan & Konseling Di Sekolah. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Wibowo. Mungin Eddy. 2010. Kejujuran Sebagai Basis Pengembangan Karakter Bangsa. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Semarang, 23 juni.
Komentar
Posting Komentar